SELAMAT DATANG DI BLOG, BOCAH 1922. TEMPAT BERBAGI INFORMASI SEPUTAR TEKNOLOGI, INFORMASI DAN PENGETAHUAN

KIAI KHASBULLAH DAN MUSUHNYA



Kiai Khasbullah Salim almarhum memang prang luar biasa. Orang Sedan (Rembang) yang kemudian tinggal di Jombang ini senang dengan keterusterangan sikap dan ucapan. Lugas dalam berbicara, teguh dalam sikap, berani melawan yang dianggap tidak benar.

Sering kali hanya pakai "celana kiai" (celana dalam 'midi' hanya sampai sedikit di bawah lutut, biasanya dibuat dari kain belacu) sonder kaus dalam, kiai yang satu ini menganggap penegakan hukum agama sebagai inti perjuangan hidupnya. Keseluruhan hidupnya diabdikan untuk mengajar orang banyak di kampungnya yang akan banyak aspek kehidupan individual dan masyarakat yang belum sesuai dengan perintah Islam. Pendekatanya langsung ke pokok persoalan. Tidak selesai dengan adu argumentasi, kalau perlu adu jotosan. Mula-mula mendirikan ranting NU di Desa Denanyar, harus berkelahi fisik karena diejek terus-menerus oleh 'orang abangan' di tempat itu.Tidak heranlah sewaktu dia pindah ke desa Rejosari (delapan kilometer ke barat daya), segeralah ia terlibat dengan kasus baru yang dihadapinya. Di desa yang bersebelahan dengan Gadingmangu, muncul gerakan baru bemama Darul Hadith. Di bawah pimpinan 'Amirul Muloninin' Abu Hasan Ubaidah, gerakan itu kini memiliki nama lain, Islam Jama'ah, yang sempat membuat heboh beberapa waktu yang lalu.

Di tahun-tahun limapuluhan belum ada Majelis Ulama Indonesia, jadi Kiai Khasbullah harus berjuang sendirian melawan 'bahaya dari timur' desanya itu. Sesuai dengan kelugasan seorang agamawan yang berpegang teguh pada keyakinan agama yang dianggapnya benar, ia segera mengajukan tantangan berdebat.

Diceritakan pada penulis, perdebatan berjalan dua kali, di muka umum dalam rapat terbuka di atas mimbar. Pertama kali Kiai Khasbullah tidak berhasil mematahkan argumentasi lawan, ia langsung berteriak 'Siapa yang benar?', dan publik langsung membenarkan dia. 'Satu nol untuk pihak saya,' katanya.

Kali dua, pihak Darul Hadith tidak mau dengan syarat begitu itu. Kembali adu argumentasi berlangsung secara bertele-tele. Saling menyalahkan.'Setelah capek saya berdebat dan dia kelihatan tidak akan menyerah, langsung saya pukul dia. Saya menang lagi, dua nol untuk golongan saya, 'ucap kiai kita ini dengan polosnya.

Sudah tentu perkembangan gerakan Ubaidah itu tidak terhenti hanya dengan skor dua nol itu. Homogenitas paguyubannya dan kohesi masyarakatnya membuat Darul Hadith semakin kokoh di Gadingmangu.

Bagaimana halnya dengan Kiai Khasbullah? Beliau mengatakan kepada penulis beberapa waktu sebelum wafatnya beberapa tahun yang lalu: "Biar saja. Gurunya Ubaidah dulu, almarhum Kiai Zaid Semelo, pernah bilang kalau kenakalan Ubaidah tidak usah digubris. Nanti 'kan hilang sendiri kenakalan itu kalau dia mati. Ini omongannya wali lho! Lagi pula sudah ada saling pengertian saya dengan pengikutnya di Gadingmangu. Tidak kita apa-apakan, asal mereka tidak tabligh ke desa lain di sekitamya, serta tidak membeli tanah di desa saya ini. Biar saja, becik ketitik ala ketara.

Tampak kiai yang sepintas lalu tampak kasar sikapnya ini, karena kelugasannya dalam berbicara dan bersikap, menyimpan kearifannya sendiri. Pertentangan pendapat tidak semuanya diselesaikan; dan lebih-lebih tidak akan terselesaikan dengan melarang begini atau begitu. Adakalanya toleransi lebih memberikan hasil, sebagai upaya menahan perluasan pengaruh lawan.

Dalam bahasa politik luar negerinya mendiang Dulles, sikap menahan perluasan pengaruh ini dilstilahkan sebagai containment policy. Cuma saja,Dulles tidak toleran kepada pihak lawan, main kepung saja dengan fakta-fakta pertahanan. Karena ini tidak searif Kiai Khasbullah.

Mungkin Majelis Ulama Indonesia, yang pemah mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk melarang Islam Jama'ah, dapat belajar banyak dari 'strategi perjuangan' model Kiai Khasbullah ini. Setidak-tidaknya, toleransi kepada gerakan-gerakan 'sempalan' (splinter group) dalam Islam harus diperhitungkan sebagai salah satu jalan terbaik untuk mendewasakan sikap hidup umat secara keseluruhan.
Bukankah kasihan umat yang harus melihat musuh di setiap pojok jalan dan seluruh penjuru angin?
[Read More...]


KIAI IKHLAS DAN KO-EDUKASI



Kyai Sobari sudah berusia lebih dari tujuh puluh tahun. Tidak lagi kuat berpergian jauh-jauh dari rumah. Terkena angin sedikit bisa kumat asmanya yang sudah menahun. Sudah hampir dua tahun ia berhenti mengajar di Pesantren Tebuireng, yang terletak 5 kilometer dari desanya. Selama 33 tahun jarak sekian itu ditempuhnya hampir setiap hari, untuk menunaikan tugas mengajar, yang dirumuskannya sebagai "membayar utang ilmu kepada Hadratus Syaikh Kiai Hasyim Asy'ari."

la tidak meminta jabatan formal apapun di pesantren itu, tak mengharapkan imbalan apapun. Corak kiai yang begini disebut oleh kalangan pesantren sebagai orang yang ikhlas, tulus tanpa pamrih dalam pengabdiannya. Mungkin karena ikhlasnya itulah do'anya lebih diterima Allah, begitu komentar orang banyak. Karena itu pantas kalau khalayak ramai banyak meminta di do'akan agar sembuh dan penyakit atau lepas dari gangguan bermacam-macam, dari yang bersumber dari makhluk halus hingga ke persoalan kasar.

Guraunya yang lembut dan menunjukkan kerendahan hati. Dan dengan keteguhan jiwa orang telah menemukan dirinya sendiri, Kiai yang satu ini dihormati semua orang, dicintai murid-muridnya dan disegani mereka yang mendapat perintah atasan untuk mengimbangi pengaruhnya dengan berbagai macam cara.

Kesederhanaan hidupnya menjadi contoh bagi rakyat kecil untuk menanamkan derita yang timbul dari berbagai macam cobaan dalam hidup.

Tetapi, tidak semua begitu cerah seperti digambarkan di atas. Pendiriannya yang sekokoh karang penghadang hempasan ombak di laut lepas, sering kali membuat sulit orang lain.

la memang tidak sengaja membuat sulit, tetapi toh kesulitan lah yang muncul dari kiai ini. Pejabat yang harus mensukseskan program KB bisa pusing tujuh keliling mendengar permintaannya kepada rakyat agar berbanyak-banyak anak. 'Himbauan'-nya agar santri hanya mengurusi 'ilmu agama' membuat repot guru aljabar yang mengajar di kelas sebelah. Moralitasnya yang utuh dan bulat tetapi berjalan tunggal, sering membingungkan anak-anak muda yang lagi gandrung sesuatu yang sedang menjadi mode.

Walhasil, gambaran kiai yang ikhlas tetapi kolot. Pergaulannya luwes, tetapi pendiriannya kaku.

Sudah tentu menjadi kejutan bagi penulis ini, ketika ia menyanjung SMP-SMA yang sudah tiga tahun berdiri di Pesantren Tebuireng. Ketika penulis ini berkunjung ke rumahnya beberapa bulan lalu, kiai tua ini menyatakan persetujuan atas tegaknya disiplin dan peraturan di kedua sekolah tersebut. Tidak seperti Madrasah Aliyah, katanya, semuanya belum sadar kepada peraturan.

Apakah kiai ini tidak tahu bahwa kedua sekolah ini mencampurkan siswa dan siswi dalam satu kelas, atau dengan kata lain mengadopsi ko-edukasi? "Tahu", katanya, "anak saya sendiri sekolah di situ. Karena itu saya tahu betul di situ peraturan dijaga dan ditegakkan", lanjutnya.

Apa kiai tidak keberatan dari sudut pandangan hukum agama atas sistem ko-edukasi? "Tidak", jawabnya, "karena jelas tujuannya. Larangan bercampur aduk antara pria dan wanita 'kan ditujukan untuk menjaga moralitas dalam pergaulan, untuk menjaga keamanan dalam pergaulan. Jangan sampai ada penyelewengan. Itu saja tujuannya. Lha kalau mau aman-amanan, mana ada yang lebih aman dari ruang kelas?" Apa ada sekolah mengajarkan keburukan, ia balik bertanya.

Di sinilah pentingnya peraturan ditegakkan. Peraturan sekolah menetapkan pergaulan antara sesama siswa harus berlangsung secara tertib dan menjaga tata kesopanan. Kalau peraturan ditegakkan, dari yang menyangkut absensi hingga kepada aturan pergaulan, sudah tentu tercapai tujuan menjaga moralitas dalam sistem ko-edukasi itu.

Bagaimana dengan pakainan anak putri, yang menggunakan yurk? Berangsur-angsur ditata yang baik,nanti akan diusulkan agar dianjurkan pakai yurk maksi, atau dalam istilah kiai kita rok landung, suatu istilah Belanda Jawa.

Fleksibilitas kiai 'kolot' yang satu ini cukup menarik perhatian, kerena ia membawa implikasi bermacam-macam. Yang jelas, tidak benar anggapan kiai-kiai 'kolot' tidak memiliki rasionalitas dalam berpendapat, hanya mampu mengoper saja dari literatur fiqh kuno tanpa dikembangkan.

Kiai kolot seperti Kiai Sobari ini memiliki logika dan rasionalitas mereka sendiri, walaupun mungkin tidak sama dengan dasar-dasar berpikir modem. Mereka juga memiliki kemampuan untuk menerapkan prinsip-prinsip pengambilan keputusan keagamaan atas kasus-kasus kongkrit, sesuai dengan apa yang mereka anggap sebagai kebutuhan masa.

Kalau rasionalitas seperti ini tidak membawa kepada pandangan rasional dalam pendapat Kiai Sobari tentang KB, bukankah anak-anaknya nanti yang akan berpikir seperti itu, tanpa harus terputus akar mereka dengan prinsip-prinsip keagamaan yang mereka warisi dari ayah mereka? Bukankah cukup banyak kiai yang menerima gagasan KB, walaupun ayah mereka dahulu tentu tidak setuju?
[Read More...]


DUNIA NYATA KIAI ZAINAL



Wajahnya mencerminkan kekerasan hati, kesan yang timbul dari tekukan rahangnya yang tampak sangat nyata. Mirip wajah Jack Palance yang sedang menggertakkan gigi menghadapi Alan Ladd dalam film Shane dari masa dua puluhan tahun yang lalu.

Bahkan ada sedikit kesan kebengisan pada wajahnya itu, tetapi yang bercampur dengan ketampanan yang masih tersisa dari masa mudanya.

Wajah keren dari masa muda itu kini membayangkan kewibawaan di masa tua. Tindak tanduknya (dedeg, kata orang Jawa) mencerminkan, juga hati yang penuh ketetapan pendirian, ucapannya menunjukkan keyakinan pendapat, dan caranya mengemukakan pendiriannya juga lugas penuh kepercayaan kepada diri sendiri. Bagaikan eksekutif dinamis masa kini yang ternyata tidak memerlukan Brisk dan tidak butuh Supradin serta berbagai jenis deodorant untuk menjaga kepercayaan diri itu.

Penampilan bagaikan eksekutif temyata hanya terhenti pada raut wajah dan kesan yang ditimbulkannya belaka, karena Kiai Zainal Abidin Usman membawa penampilan lain pada sisa tubuhnya: kain sarung polekat yang sudah berumur lama,baju panjang abu-abu dengan sebuah kancing yang hampir lepas,sandal plastik yang begitu murah harganya sehingga tidak akan dicuri orang dari halaman masjid atau langgar, dan seterusnya. Pendeknya, penampilan utuh dari seorang kiai 'di tingkat lokal'.

Kesemua manifestasi lahiriyah di atas merupakan hasil dari hidup Kiai Zainal yang penuh kesukaran. Harus mengikuti pola belajar yang penuh disiplin dan sanksi fisik (termasuk dilecut) kalau tidak menunjukkan 'jatah' hafalan yang sudah ditetapkan sang guru semenjak usia sangat muda, enam tahun.Tidak diperkenankan menikmati masa muda yang penuh kesenangan inderawi, melainkan harus mengikuti pola hidup yang diselaraskan dengan hukum-hukum fiqh dan tata cara belajar (adabut ta'allum) yang diletakkan kitab-kitab kuno agama.

Lebih jauh lagi, ia kemudian harus belajar lama di Mekkah: jauh dari sanak saudara, sering dihadapkan dengan kekurangan belanja 'kebutuhan pokok', dan harus banyak menjalani tirakat untuk memperoleh ilmu-ilmu agama yang diharapkan.

Tidak heran jika seandainya Kiai Zainal kemudian mengembangkan kepribadian yang 'berlajur tunggal', di mana dominasi hukum agama dan bentuknya yang paling kaku dan 'harfiah' atas pandangan hidupnya. Orang tidak akan tercengang kalau Kiai Zainal kemudian menumbuhkan sikap untuk menerapkan hukum agama secara apa adanya, secara apa yang tertulis dalam kitab-kitab fiqih kuno. Bukankah semua kiai yang berpola pendidikan dan kemudian pola hidup seperti Kiai Zainal juga berbuat demikian? Pantaslah kalau Kiai Zainal juga diperkirakan akan mengikuti 'jalur umum ke-kiai-an' seperti itu.

Temyata tidak demikian kenyataannya. Kiai Zainal temyata menumbuhkan pola berpikir yang lain, mengembangkan pandangan hidup dari 'jalur umum' di atas. la mengikuti 'jalur umum' hanya pada pola hidup lahiriyahnya sebagai kiai belaka, seperti digambarkan pada penampilan fisik di atas.

la temyata melakukan dialog dengan kenyataan-kenyataan hidup yang dihadapinya yang sering kali jauh berbeda dari kondisi ideal yang melahirkan hukum-hukum agama yang dikodifikasikan dalam kitab-kitab fiqh kuno. la melakukan peninjauan kembali atas hukum-hukum agama itu, walaupun dengan caranya sendiri dan melalui pendekatan persoalan yang dirumuskannya sendiri. Perbedaan dari 'jalur umum ke-kiai-an' itu tampak nyata dalam sebuah forum penataran mubaligh dan khatib baru-baru ini, ketika berlangsung debat tentang penyelenggaraan zakat. Kalau zakat ingin diterapkan secara organisatoris dan dikembangkan melalui perluasan jenis-jenis 'wajib zakat', sehingga meliputi upah, honorarium dan gaji tetap dari bermacam-macam profesi,tentu ada kesulitan.

Mazhab-mazhab fiqh sudah menentukan kategori kewajiban zakat hanya jatuh pada keuntungan berdagang, hasil panenan tanaman utama (padi dan sebagainya), harta benda tetap, dan logam mulia emas perak. Lainnya tidak terkena zakat. Lalu bagaimana mungkin gaji tetap, honorarium dan upah dikenakan zakat?

Belum lagi pelaksanaannya, yang dikehendaki sementara pihak harus diorganisasi secara efisien dan administratif. Diberikannya pun juga harus dalam bentuk tidak melulu konsumtif, melainkan dalam bentuk pinjaman dan pemberian alat, Belum lagi kalau dijadikan biaya penataran dan latihan-latihan keterampilan. Apakah tidak menyalahi ajaran-ajaran mazhab-mazhab fiqh?

Persoalannya bukan demikian, kata Kiai Zainal berapi-api. Apa yang dirumuskan kitab-kitab fiqh itu 'kan hanya dalam negara Islam saja dapat diterapkan sepenuhnya! Di zaman Rasulullah ada sanksi kalau orang tidak menyerahkan zakat karena yang dipergunakan adalah perundang-undangan Islam secara total. Jadi tidak perlu ada panitia zakat dan lain-lain kelengkapan administratif lagi. Negara bertanggungjawab atas kesejahteraan masing-masing warga negara, jadi tidak usah kita berpayah-payah mencari dana untuk melatih orang bekerja atau memberikan modal kerja kepadanya.

Tetapi kita 'kan tidak hidup dalam negara Islam, karena itu kondisi yang dihadapi pula berlainan. Kalau tidak ada sanksi otomatis bagi orang yang enggan menyerahkan zakat, apakah justru tidak diperlukan panitia zakat yang akan menyelenggarakannya ? Kalau kaum Muslim masih lemah ekonominya, apakah seluruh perolehan zakat harus dihabiskan sekaligus secara konsumtif dan tidak digunakan sebagian untuk kepentingan produktif? Kalau kita ingin mengembangkan zakat itu sendiri secara kuantitatif, apakah justru tidak perlu diciptakan wajib zakat baru?

Temyata dibalik bentuk lahiriyah yang kuno, Kiai Zainal memilliki daya tanggap yang cukup relevan dengan kebutuhan masa dan keadaan ummatnya. Patutlah kalau ia dianggap berorientasi kepada dunia nyata. Tetapi patut juga dipertanyakan anggapan bahwa ia menyimpang dari 'jalur umum ke-kiai -an' dalam orientasinya kepada dunia nyata ini.Mengingat bahwa ia dibenarkan dan tidak ditentang oleh kiai-kiai lain, apakah bukannya sebaliknya yang terjadi?

Bukan tidak mungkin bahwa justu orientasi 'jalur umum ke-kiai-an' memang ditunjukan kepada dunia nyata, di kala mereka harus melakukan peninjauan kepada hukum-hukum agama yang ada dalam kitab-kitab fiqh kuno.

[Read More...]


SIAPA YANG MENGGODA SYETAN?





    Syetan rupanya sangat bangga dengan tugasnya, menggoda manusia untuk berbuat jahat. Namun manusia yang satu ini rupanya juga penasaran. Kalau begitu, siapa yang menggoda syetan? katanya dalam hati.

    Orang itu tak lain Mukidin, pertugas pentakmir masjid di dekat rumahnya. Dia sekarang makmur karena bisa korupsi di sana sini. Suatu ketika Mukidin bertanya pada seorang Kiai Sufi.
    “Pak Kiai, syetan itu kan punya tugas menggoda manusia, lalu siapa yang menggoda syetan?” tanyanya agak sombong
    “Ya kamu itu yang menggoda syetan!” kata Kiai seraya mengumbar tawa.

    Mukidin pun ikut tertawa sampai-sampai perutnya yang buncit itu berguncang-guncang.
    Suasana sejenak hening, dan Mukidin hanya tertunduk sambil merenungi dirinya. Benarkah dirinya bisa menggoda syetan, sedangkan syetan dari ujung rambut hingga kakinya pun belum ia kenal?
    Setelah beberapa bulan ia menyadari akan tindakan buruknya selama ini, ia bertobat lalu mendatangi Kiai Sufi itu.
    “Benar Pak Kiai, saya memang sering menggoda syetan,” katanya.
    “Ya, kalau kamu tidak menggodanya, syetan tidak berani menggodamu,” kata Kiai itu yang disambut manggut-manggut Mukidin
[Read More...]


GERAH DENGAN BUKU YANG MENGUGAT SUFI



Dengan sikap emosional dan gerah, Parto menentang beberapa buku yang menggugat dunia Tasawuf. Sudah bisa ditebak buku itu isinya pasti menghujat, menyesatkan dan menyampahkan tasawuf.
“Ini bagaimana kawan. Kita dihabisi dengan penuh kehinaan. Apa yang harus kita lakukan. Apa kita bakar buku-buku ini?”
Kawannya, Sugih namanya,  yang diajak bicara tadi melihat satu persatu buku itu sambil senyum-senyum.
“Gih kamu kok malah tertawa-tawa seperti itu. Ini banyak orang bisa sesat membaca buku ini, dan mereka bisa anti terhadap ajaran tasawuf.”

“Ngapain kamu gerah To, lha wong zamannya Ibnu Sraby, zamannya Ibnu Athaillah saja, sudah dihujat oleh Ibnu Taymiyah yang begitu hebat. Tapi toh tak bergeming. Sedangkan buku-buku ini yang menulis klas kambing saja, penulis pinggir jalan, seperti penjaja kacang goreng saja…”

“Tapi ini kan ada juga penulis dari Syeikh Saudi?”
“Apalagi. Kan semakin jelas.”
“Jelas apanya mereka syeikh dan Ulama…”
“Nah semakin jelas pula, dan semakin gembira kita…”
“Saya nggak mudeng Gih, kenapa kamu begitu….?”
“Lha iya. Alhamdulilllah tasawuf digugat. Itu justru akan membesarkan pohon Sufi kita, menjadi pupuk bagi kagungan dan kerindangan ajaran Nabi yang paling inti…”

“Kamu ini malah bikin aku pusing…”
“Pohon itu besar karena pupuknya, rawatannya. Lebih baik kita pakai pupuk kandang anti pestisida. Kotoran-kotoran sapi itu lho…masak kamu nggak ngerti…”
“Aku nggak ngerti Gih…”

“Anggap saja mereka itu, ucapan mereka, ulasan mereka tu, kotoran yang menjadi pupuk bagi kita. Jangan dibuang. Biarkan saja. Lha wong para Nabi dan para  wali dulu musuhnya orang-orang munafik, orang-orang zalim, orang-orang fasiq, nah, kIta belajar dan bercermin saja di sana. Nggak usah pusing-pusing lah, malah alhamdulillah…”
Parto hanya geleng kepala sambil menghela nafas panjangnya.
“Jadi nggak perlu di counter  Gih?”
“Di counter sambil guyon, dan ditunggu sambil tidur saja…”

[Read More...]


TERSESAT DI SYURGA



Seorang pemuda, ahli amal ibadah datang ke seorang Sufi. Sang pemuda dengan bangganya mengatakan kalau dirinya sudah melakukan amal ibadah wajib, sunnah, baca Al-Qur’an, berkorban untuk orang lain dan kelak harapan satu satunya adalah masuk syurga dengan tumpukan amalnya.
Bahkan sang pemuda tadi malah punya catatan amal baiknya selama ini dalam buku hariannya, dari hari ke hari.
“Saya kira sudah cukup bagus apa yang saya lakukan Tuan…”
“Apa yang sudah anda lakukan?”
“Amal ibadah bekal bagi syurga saya nanti…”
“Kapan anda menciptakan amal ibadah, kok anda merasa punya?”
Pemuda itu diam…lalu berkata,
“Bukankah semua itu hasil jerih payah saya sesuai dengan perintah dan larangan Allah?”

“Siapa yang menggerakkan jerih payah dan usahamu itu?”
“Saya sendiri…hmmm….”
“Jadi kamu mau masuk syurga sendiri dengan amal-amalmu itu?”
“Jelas dong tuan…”
“Saya nggak jamin kamu bisa masuk ke syurga. Kalau toh masuk kamu malah akan tersesat disana…”
Pemuda itu terkejut bukan main atas ungkapan Sang Sufi. Pemuda itu antara marah dan diam, ingin sekali menampar muka sang sufi.
“Mana mungkin  di syurga ada yang tersesat. Jangan-jangan tuan ini ikut aliran sesat…” kata pemuda itu menuding Sang Sufi.
“Kamu benar. Tapi sesat bagi syetan, petunjuk bagi saya….”
“Toloong diperjelas…”

“Begini saja, seluruh amalmu itu seandainya ditolak oleh Allah bagaimana?”
“Lho kenapa?”
“Siapa tahu anda tidak ikhlas dalam menjalankan amal anda?”
“Saya ikhlas kok, sungguh ikhlas. Bahkan setiap keikhlasan saya masih saya ingat semua…”
“Nah, mana mungkin ada orang yang ikhlas, kalau masih mengingat-ingat amal baiknya? Mana mungkin anda ikhlas kalau anda masih mengandalkan amal ibadah anda?
Mana mungkin anda ikhlas kalau anda sudah merasa puas dengan amal anda sekarang ini?”

Pemuda itu duduk lunglai seperti mengalami anti klimaks, pikirannya melayang membayang bagaimana soal tersesat di syurga, soal amal yang tidak diterima, soal ikhlas dan tidak ikhlas.
Dalam kondisi setengah frustrasi, Sang sufi menepuk pundaknya.
“Hai anak muda. Jangan kecewa, jangan putus asa. Kamu cukup istighfar saja. Kalau kamu berambisi masuk syurga itu baik pula. Tapi, kalau kamu tidak bertemu dengan Sang Tuan Pemilik dan Pencipta syurga bagaimana? Kan sama dengan orang masuk rumah orang, lalu anda tidak berjumpa dengan tuan rumah, apakah anda seperti orang linglung atau orang yang bahagia?”
“Saya harus bagaimana tuan…”

“Mulailah menuju Sang Pencipta syurga, maka seluruh nikmatnya akan diberikan kepadamu. Amalmu bukan tiket ke syurga. Tapi ikhlasmu dalam beramal merupakan wadah bagi ridlo dan rahmat-Nya, yang menarik dirimu masuk ke dalamnya…”
Pemuda itu semakin bengong antara tahu dan tidak.
“Begini saja, anak muda. Mana mungkin syurga tanpa Allah, mana mungkin neraka bersama Allah?”
Pemuda itu tetap saja bengong. Mulutnya melongo seperti kerbau.

[Read More...]


TOBAT GARA-GARA KERTAS



Kita sangat mengenal seorang sufi besar, Bisyr bin al-Harits 
al-Hafi (150–227 H). Awal mula ia bertobat dan memasuki dunia sufi, sebenarnya gara-gara secarik kertas yang tercecer dan diinjak banyak orang. Ia melihat kertas itu dengan hati yang sangat antusias. Sebab pada kertas itu ada tulisan Nama Allah. Lalu kertas itu ia ambil, bahkan kertas itu ia beli dengan harga satu dirham. Kemudian kertas itu ia bersihkan sampai bersih, lantas ia letakkan di celah-celah sebuah tembok.

Malamnya Bisyr al-Hafi bermimpi. Dalam mimpi itu ia mendengar suara  yang berkata padanya, “Wahai Bisyr, engkau telah membersihkan nama-Ku, sungguh Aku bakal  membersihkan namamu (tergolong orang yang baik-- red) di dunia dan di akhirat.”
Sejak mendengar kata-kata itu, Bisyr bertobat dan menjadi sufi, bahkan tergolong tokoh sufi yang disegani di dunia.

Zuhud gara-gara patung
Seorang sufi, Abu Ali Syaqiq al-Balkhi (W. 194 H) memiliki kisah unik, mengapa ia menjadi sufi dan akhirnya menjadi zahid (ahli zuhud)? Syaqiq semula anak saudagar kaya. Gara-gara Syaqiq sedang pergi ke Turki untuk berbisnis di sana, ia memasuki sebuah gedung peribadatan yang dipenuhi dengan berhala-berhala patung. Sejenak ia temui pelayan rumah itu, dengan memakai pakaian khasnya.

“Anda itu, sebenarnya punya Tuhan Yang Mencipta, Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa, karena itu sembahlah Dia, dan jangan menyembah patung-patung itu yang tidak bisa membuat Anda sengsara maupun berguna bagi Anda.” Demikian Syaqiq menyarankan kepada pelayan rumah itu.

“Lho, jika memang seperti yang Anda katakan itu,  pasti Tuhanmu itu Maha Kuasa memberi rizki anda di negeri anda sana. Lalu untuk apa anda payah-payah datang berbisnis kemari,” jawab pelayan itu.
Mendengar jawaban seperti itu Syaqiq jadi kaget. Maka, sejak saat itu ia putuskan untuk hidup dalam kezuhudan.

[Read More...]


TUJUH PULUH LILIN




Suatu kali, seorang darwis bertamu ke rumah Ahmad dan diterima dengan hangat. Ahmad menyalakan tujuh puluh buah lilin.

"Ini tidak menyenangkanku," kata si darwis.
"Sibuk dengan hal hal remeh tidak ada kaitannya dengan sufisme."
"Kalau begitu, pergilah," kata Ahmad, "dan padamkan setiap lilin yang aku nyalakan bukan karena Allah."

Sepanjang malam, si darwis menyiramkan air menaburkan tanah, namun tak satu lilin pun berhasil ia padamkan.

"Mengapa engkau begitu terkejut?" kata Ahmad pada darwis itu keesokan paginya. "Ikutlah denganku, dan engkau akan melihat hal hal yang memang patut membuat takjub."

Mereka pun pergi dan tiba di depan pintu sebuah gereja. Saat para gerejawan Kristen melihat Ahmad bersama temannya, kepala gerejawan mengundang mereka untuk masuk. Ia menyajikan makanan di meja dan mempersilakan Ahmad untuk makan.

"Para sahabat tidak makan bersama para musuh," ujar Ahmad dengan hormat.
"Tawarkan Islam kepada kami," kata sang kepala gerejawan.

Maka, Ahmad pun menawarkan Islam kepada mereka. Tujuh puluh gerejawan, akhirnya menerima Islam.

Malam itu, Ahmad bermimpi. Dalam mimpinya itu, Allah berbicara padanya, "Ahmad, engkau menyalakan tujuh puluh lilin untukku. Kini Aku telah menyalakan untukmu tujuh puluh hati dengan cahaya iman. "

[Read More...]


SALAT SEORANG PENCURI



Seorang pencuri membobol rumah ahmad ibnu Khadhruya. Ia mencari kesana kemari, namun tidak dapat menemukan apa-apa. Saat ia hendak pergi meninggalkan rumah Ahmad, ahmad memanggilnya, " wahai anak muda , ambilah ember itu dan ciduklah air dari sumur. Berwudulah dan dirikanlah salat. Jika aku mendapat sesuatu, aku akan memberikanya padamu, agar engkau tidak meninggalkan rumahku ini dengan tangan kosong."

Pencuri itu melakukan apa yang diperintahkan Ahmad. Ketika itu hari telah terang, seorang lelaki terhormat datang dan memberikan uang seratus dinar kepada sang syekh (Ahmad).

" ambilah uang ini sebagai imbalan bagi malammu yang engkau lewatkan dengan salat," kata Ahmad pada si pencuri.
Si pencuri kontan gemetaran seluruh badan. Ia larut dalam tangis.

"Aku telah salah jalan," pekiknya. "Baru semalam Aku bekerja untuk Allah, dan Dia telah membalasku demikian besar."

Pencuri itu pun akhirnya bertobat, kembali kepada Allah. Ia menolak uang dinar yang diberikan Ahmad, dan kemudian menjadi salah seorang murid Ahmad
[Read More...]


CERITA AHMAD IBN KHADHRUYA



Abu Hamid Ahmad ibnu Khadhruya al-Balkhi adalah saorang warga terhormat kota Balkh. Istrinya adalah seorang wanita soleh, putri dari gubernur kota itu. Ia mengunjungi Nisyabur dan meninggal dunia pada tahun 204 H/864 M dalam usia 95 tahun.

Mencari pekerjaan
Suatu kali, scorang lelaki datang menemui Ahmad ibnu Khadhruya dan berkata, "Aku sakit dan miskin. Bimbinglah aku ke jalan yang dapat menghantarkanku keluar dari cobaan ini."

"Tuliskanlah jenis jenis pekejaan yang ada masing-masing pada secarik kertas," jawab Ahmad. " Taruh potongan-potongan kertas itu dalam sebuah kantung, dan berikan padaku."

Lelaki itu pun menuliskan semua jenis pekerjaan dan membawa potongan potongan kertas itu kepada Ahmad. Ahmad memasukkan tangannya ke kantung dan mengambil secarik kertas. Di kertas itu tertulis: pencuri.

"Engkau harus menjadi pencuri," kata Ahmad kepada lelaki itu.

Lelaki itu terkejut dan terheran-heran mendengar ucapan Ahmad. Kemudian ia bangkit dan pergi menemui sekawanan penyamun.

"Aku memimpikan pekerjaan ini," katanya kepada mereka. "Bagaimana aku melakukannya?"

"Hanya ada satu aturan dalam pekerjaan ini," kata mereka kepadanya. "Engkau harus melakukan apa pun yang kami perintahkan."

"Aku akan melakukan apa pun yang kalian perintahkan," katanya meyakinkan mereka.

Lelaki itu tinggal bersama para penyamun selama beberapa hari. Lain suatu hari, sebuah kafilah melintas. Para penyamun itu mencegatnya. Mereka menyerahkan salah seorang anggota kafilah itu - seorang saudagar yang kaya raya - kepada sang anggota baru.

"Gorok lehernya," Perintah mereka.

Lelaki itu ragu. Ia berkata dalam hati, "Raja penyamun ini telah membunuh begitu banyak orang. Lebih baik aku membunuhnya daripada membunuh saudagar ini."

"Jika engkau menginginkan pekerjaan ini, engkau harus melakukan apa yang kami perintahkan," tukas sang raja penyamun. "Kalau tidak, engkau harus pergi dan carilah pekerjaan lain!"

Lelaki itu berkata, "Ya, aku memang harus menjalankan perintah. Tapi perintah Allah, bukan perintah kalian!"

Kemudian ia menghunus pedangnya, membiarkan saudagar itu pergi, dan menebas kepala sang raja penyamun.

Melihat kejadian ini, para penyamun yang lain melarikan diri. Barang-barang milik kafilah itu tetap utuh, dan jiwa si saudagar kaya tadi selamat. Ia memberikan banyak emas dan perak kepada lelaki itu agar bisa hidup mandiri
[Read More...]


MAKAN, TIDUR



Gendhut, ia biasa dipanggil, salah satu pesuluk di pesulukan thariqat, setiap hari hanya makan tidur di pemondokan. Ia tak pernah kelihatan wiridan, pokoknya habis sholat ia langsung tidur, sambil menunggu kapan maghrib dan buka puasa.
“Kanapa kamu makan tidur melulu?” tegur kawannya.
“Lah, memang begitu ajarannya?”
“Ajaran dari siapa?”
“Dari Pak Kyai…”
Kawannya kaget bukan main. Enak benar si gendhut ini makan tidur. Jangan-jangan oleh Kyainya memang diperintah demikian, pikirnya.
“Bagaimana sih ceritanya kok kamu disuruh makan tidur saja selama ini?”

“Kata Pak Kyai, saya disuruh memilih jadi penumpang model mana, seandainya saya naik bus, sopirnya kebut-kebutan, juga nabrak sana dan nabarak sini, sampai semua penumpang terluka, namun akhirnya sampai tujuan juga. Ada lagi supirnya kebut-kebutan, hampir menabrak orang dan pohon, tapi tidak jadi, para penumpang sering menjerit-jerit. Tapi akhirnya sampai tujuan pula. Dan ketiga, saya jadi penumpang sopirnya kebut-kebutan, dan para penumpang sejak naik bus sudah tidur pulas. Begitu bangun sudah sampai tujuan. Lha saya pasti memilih yang terakhir itu Kang…?”

Mendengar cerita si gendhut kawannya hanya bengong nggak habis pikir. Betapa hebatnya si gendhut ini, saking taatnya pada Kyainya sampai salah tafsir seperti itu. Hingga setiap hari hanya makan dan tidur…Wehwehweh, ini sanepo jadi beneran….

Untungnya kawannya menjelaskan maksud ungkapan Pak Kyainya, yang memilki makna begitu dalam di dunia ruhani dan perjalanan sang hamba, hingga si Gendhut rupanya mulai  sadar.
Anehnya si gendhut malah semakin kuat tidurnya. Entah, tidur macam apa lagi yang ia lakoni….Apa penjelasannya kawannya justru semakin disalahpahami, atau sedang meningkatkan ruhaninya? Wallahu A’lam…

[Read More...]


ORANG MEJADI BIJAK



Seseorang dapat dikatakan menjadi bijak, apabila orang itu dengan segenap kernampuannya dapat memahami hakikat segala sesuatu, dan yang memiliki kekuatan untuk melaksakan suatu tindakan dengan penuh kesadaran akan seluruh implikasinya.
Seorang tua bijak, yang mengejutkan Alexander Agung dengan penampakannya yang tidak sedap dipandang mata, berkata kepada Raja :
“Jangan iri atau terkejut dengan penampakanku yang jelek,
kau yang kehilangan semua nilai dan kejujuran!
Inilah tubuh dari sarung pedang, jiwanya adalah pedang:
pedang yang sedang beraksi - bukan yang sedang berada di sarungnya.”
Carilah pengetahuan yang hakiki; jangan indahkan pengetahuan yang tidak hakiki.
Dan ketika engkau memiliki pengetahuan yang kau butuhkan,
berpikirlah hanya pada bagaimana mempraktikkannya.
Jangan pernah duduk untuk makan, sampai perutmu kosong;
berdirilah dan pergilah, sebelum perutmu penuh.

Kisra, seorang Raja Persia kuno, berkata, “Aku tidak pernah menyesali kata-kata yang tidak pernah aku katakan; namun berulang kali di dalam darah dan dagingku aku menyesali perkataanku.”
Julius Caesar berkata, ‘Aku memiliki lebih banyak kekuatan melebihi kata-kata yang tidak aku ungkapkan daripada yang telah aku ungkapkan.”
Misteri yang disembunyikan seperti sebuah anak panah di genggaman tangan; sekali terbuka anak panah itu akan terlepas.
Oh kau, yang telah mengunggul-kan akalmu, seberapa sering, kau diperbudak oleh nafsu, akankah kau mengacak-acak ikal rambut kekasihmu – rantai kegilaanmu?

Tiga orang laki-laki sedang membahas tentang bentuk penderitaan apa yang paling menyedihkan.
“Usia tua dan kelemahan, ditambah dengan kekurangan dan kemiskinan,” kata orang pertama.
“Badan sakit, ditambah dengan serangkaian kecemasan,” kata yang lain. “Sakaratul maut, ditambah dengan ketiadaan amal saleh,”
kata orang ketiga; dan tentang hal ini mereka bertiga setuju.

Jangan bangkitkan amarahmu saat berpuasa:  tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada sabar dan kelemah-lembutan.
Ketika puasa menjadi penyebab, kesulitan, lebih baik hentikan daripada tetap melakukannya.
Barangsiapa berkata “mejaku” dan “rotiku” tinggalkanlah meja dan rotinya itu!

Lebih baik makan tumbuhan hijau yang tumbuh di kebunmu daripada memakan daging domba panggang milik orang lain .
Satu-satunya yang terbaik, bagi manusia yang berpandangan jernih, adalah siapa saja yang dapat membuat jiwanya abadi dan terberkati.
Pada suatu waktu seorang raja merninta nasihat kepada orang yang bijak.
“Pertama,” kata orang bijak, “Aku perlu menanyakan suatu persoalan kepadamu: jawablah dengan jujur, manakah yang lebih engkau sukai - emas, atau musuhmu?”
“Emas, “ jawab raja.
“Sesuatu yang paling engkau sukai di dunia ini akan engkau tinggalkan, sebaliknya sesuatu yang paling engkau benci akan engkau bawa pada kehidupan mendatang, di akhirat.”
Raja tersebut menangis seraya berkata, “Engkau telah memberiku nasihat yang merangkum semua nasihat yang lain.”
Dalam beribu-ribu cara kau bertengkar dengan penghuni-penghuni dunia yang rendah ini,
ketamakanmu pada perak dan emas-, menjadikan perak dan emas itulah sahabatmu,
Benda-benda berharga yang engkau miliki itu; sebenarnya adalah musuhmu:
Engkau akan terdorong untuk merebutnya dari tangan mereka
dengan kecurangan dan kekerasan.

Bukankah akal mendektekan,
Bukankah keputusan bijak akan menuntunmu, bahwa kau harus mencari teman dan memutuskan hubungan dari sang musuh?
Seorang bijak berkata, “Sebagaimana Peradaban dunia menjadi makmur karena adanya keadilan, begitu pula kehancurannya adalah karena kezaliman; ketika keadilan berada di mana-mana, sinarnya yang,memberikan pengayoman akan dapat dirasakan sejauh beribu-ribu mil, begitu pula kezaliman yang berada di mana-mana akan menyeret datangnya kegelapan yang dapat dirasakan sejauh beribu-ribu mil.”
Raja yang mendengar wejangan Sufi itu, bertanya “Mengapa pesan itu tidak Anda sampaikan kepadaku, pada jauh-jauh hari sebelumnya?”
“Karena pertanyaanmu itu, sebenarnya salah. Pertanyaan yang benar adalah, ‘Mengapa saya. tidak pernah melihatmu datang di dalam majelis pengajian?’- atau dengan kata lain, ‘Mengapa engkau yang tidak datang mengunjungiku,’ [karena ilmu itu didatangi, bukan mendatangi],” demikian iawab si Sufi.

[Read More...]


KITAB HARTA & KITAB CINTA



‘Amr Ibnu ‘Utsman
Abu ‘Abdullah ‘Amr ibim ‘Utsman al Makki adalah salah seorang murid Al Junaid. Ia mengunjungi Ishfahan dan meninggal dunia di Baghdad pada Tahun 291 H/904 atau 297 H/910M.

‘Amr ibnu ‘Utsman al Makki dan Kitab Harta
Dikisahkan bahwa suatu, hari ‘Amr bin Utsman al Makki rnenulis terjemah Kitab Harta pada kertas. la menyimpannya di bawah sajadahnya lalu pergi untuk berwudlu.

Saat ia tengah berwudlu, desas-desus (bahwa rumahnya kemalingan) sampai padanya, dan ia pun segera menyuruh pembantunya untuk mengambil Kitab Harta itu.
Ketika pembantunya mengangkat sajadah ‘Amr, ia tidak menemukan kertas terjermahan itu. la pun melapor .
‘Amr ibnu ‘Utsman berkata, “Para pencuri mengambilnya dan mereka telah pergi.”

Kemudian ia menambahkan, “Orang yang mengambil terjemahan kitab harta itu., tangan dan kakinya akan segera terpotong. Ia dihukum gantung, jenazahnya akan dibakar abunya akan ditebarkan ke udara. Pastilah ia. Telah sampai pada harta itu, karena ia telah mencuri Kitab Harta.”
Diantara isi dari Kitab Harta.

“Pada saat  ruh memasuki tubuh Adam,  Allah memerintahkan seluruh malaikat untuk sujud di hadapan Adam. Seluruh malaikat pun sujud.
Iblis berkata, “Aku tidak akan sujud. Aku akan mempertaruhkan hidupku, dan aku akan melihat rahasia, walaupun untuk itu aku dikutuk, dijuluki perndurhaka, pendosa, dan munafik.’

Iblis tidak sujud. ‘Maka ia pun melihat dan mengetahui rahasia, manusia. Akibatnya, Iblis adalah satu-satunya yang mengetahui rahasia manusia. Begitu pula, manusia adalah satu-satunya yang mengetahui rahasia Iblis.
Iblis mengetahui rahasia manusia karena ia tidak sujud, demikian hingga ia merasa bahwa dirinya sibuk melihat rahasia itu.
Iblis ditolak oleh semua manusia, karena mereka telah memperlihatkan harta itu kepadanya. Mereka berkata, “Kami menguburkan harta itu kedalam tanah.”
Kondisi yang melekat pada harta itu ialah bahwa seseorang akan melihatnya, namun mereka akan memenggal kepalanya sehingga ia tidak akan  membocorkannya.

Iblis memekik, “Dalam hal ini, berilah Aku tangguh. Jangan bunuh aku. Akulah orang yang melihat harta itu. Mereka memperlihatkan harta itu kepadaku, dan kedua mataku ini tak akan luput.”
Pedang Aku Tidak Peduli berfirman,  “Sesungguhnya engkau termasuk mereka yang diberi tangguh.

Kami memberimu tangguh, namun Kami membuatmu lekat dengan kecurigaan. Kami tidak akan menghancurkanmu, namun engkau akan menjadi orang yang dicurigai dan menjadi seorang pembohong.
Tiada seorang pun yang akan menerimamu sebagai Penyeru kebenaran. Mereka akan berkata, ‘Dia adalah dari golongan jin, dan ia mendurhakai perintah Tuhannya.”
la adalah Setan. Bagaimana ia dapat berkata benar? Karena itulah ia dikutuk, ditolak, ditinggalkan, dan diabaikan.
Begitulah terjemahan Kitab Harta oleh ‘Amr ibnu ‘Utsman.

‘Ami ibnu ‘Utsman tentang Cinta
Dalam Kitab Cinta-nya, ‘Amr ibnu ‘Ultsman menyatakan :
Allah Yang Mahakuasa menciptakan hati (kalbu, qalb) tujuh ribu tahun sebelum jiwa (nafs), dan Dia menyimpannya di Taman Keintiman.
Dia menciptakan rahasia (sirr) tujuh ribu tahun sebelum kalbu, dan menyimpannya di Derajat Penyatuan.
Setiap hari, Allah membuat jiwa menerima 360
Pandangan kemuliaan dan mendengar 360 kata cinta.
Setiap hari, Dia mewujudkan 360 kesenangan keintiman untuk kalbu.
Setiap hari, 360 kali Dia menyingkapkan keindahan kepada rahasia.
Maka mereka melihat segalanya di dunia keberadaan, dan mengetahui bahwa tiada yang lebih berharga dibandingkan dengan mereka.
Kesombongan dan kecongkakan mewujud diantara mereka.Karena itu, Allah menguji mereka. Dia memenjarakan rahasia di dalam jiwa. Dia mengurung jiwa di dalam kalbu. Dan Dia menawan kalbu di dalam tubuh. Lalu Dia memberi mereka akal.
Allah mengutus para nabi dengan membawa hukum-hukumNya. Lalu masing-masing dari mereka mencari maqam-nya yang tepat.
Allah memerintahkan mereka untuk berdoa. Maka tubuh pun berdoa, kalbu meraih cinta, jiwa menggapai kedekatan, dan rahasia tenang dalam penyatuan.

Surat ‘Amr ibnu ‘Utsman kepada Junaid
Ketika ‘Amr ibnu ‘Utsman sedang berada di Makkah, ia menulis surat kepada Junaid, Jurairi, dan Syibli di Irak. Berikut ini adalah suratnya.
“Ketahuilah bahwa kalian adalah orang-orang besar dan tetua Irak. Katakanlah pada setiap orang yang merindukan tanah Hijaz dan keindahan Ka’bah, ‘Kalian tidak akan pernah mencapainya, kecuali dengan penderitaan roh yang sangat.’ Dan katakanlah pada setiap orang yang, merindukan Primadani Kedekatan dan Istana Kemuliaan, ‘Kalian tidak akan pernah mencapainya, kecuali dengan penderitaan jiwa yang sangat.”

Di penghujung suratnya, ‘Amr menulis, “Ini adalah surat dari ‘Amr ibnu ‘Utsman al Makki dan para tetua Hijaz yang semuanya bersama-Nya, di dalam-Nya, dan dengan-Nya. Jika ada seseorang di antara kalian bercita-cita  tinggi, katakanlah padanya, “Titilah jalan ini, di mana terbentang dua ribu gunung berapi dan dua ribu lautan penuh badai dan bahaya. Jika engkau belum sampai pada tingkatan ini, janganlah membuat alasan-alasan palsu, karena alasan palsu tak menghasilkan apa-apa.’
Ketika surat itu sampai kepada Junaid, ia mengumpulkan para tetua Irak lainnya (Jurairi dan Syibli) dan membacakan surat itu di hadapan mereka.
Lalu Junaid berkata, “Ayo, katakanlah, apa yang ia maksud dengan gunung-gunung ini?”
Mereka menjawab, “Yang ia maksud dengan gunung-gunung itu adalah penihilan.
Seseorang tidak akan mencapai Istana Kemuliaan sampai ia menihil seribu kali dan menjadi kembali seribu kali.”
“Dari dua ribu gunung berapi itu,” ujar Junaid, “hanya satu yang telah kulalui.”

“Engkau beruntung telah melalui satu gunung,” tutur Jurairi. “Sedangkan aku, sampai saat ini baru berjalan tiga langkah.”
Syibli bercucuran air mata mendengar ucapan kedua sahabatnya itu. “Junaid, engkau beruntung karena telah melewati satu gunung,” pekiknya.
“Dan engkau juga beruntung, wahai Jurairi. Engkau telah berjalan sejauh tiga langkah. Sementara aku, sampai saat ini bahkan belum melihat debunya. dari kejauhan.”
[Read More...]


DEMEN AMALAN



Darmo paling senang kalau ia mendapatkan amalan dan ijazah wirid dari seorang Kyai. Bahkan ia benar-benar maniak “wirid”. Bukunya ada tiga jilid, semua isinya tulisan tentang wirid, doa, dzikir, macam-macam, sampai soal pelet dan gendam pun ada di catatannya.
Buku itu ditenteng kemana-mana, layaknya tukang kredit. Suatu hari ia ingin pamer pada kawan lamanya yang sudah sekian tahun tidak bertemu, Kunto, nama kawan itu.

“Kun, bagaimana perkembanganmu, apa kamu sudah punya amalan untuk pegangan hidupmu?”
“Saya nggak punya apa-apa Mo, saya hanya punya satu saja …”
“Lah, amalan kok satu, kurang sempurna Kun. Kalau saya nih…” katanya sambil menyodorkan tiga buku catatan amalan itu.
“Kamu mestinya jadi sarjana Mo..”
“Wah saya sudah S 7. Mestinya sudah lebih professor soal amalan…”
Kunto hanya senyum-senyum saja.
“Jadi kamu sudah bisa apa
saja Mo?”
“Jangankan samurai, peluru pun sudah nggak mempan.
Orang sekampung juga sudah mulai tahu kedigdayaanku ini…”
“Sakti donk kamu?”
“Begitulah…”
 “Sesakti-sakti kamu, kalau ketemu isterimu kamu juga sudah takut bukan main….”

“Kok tahu kamu?”
“Tau saja. Apa artinya kesaktianmu….kalau begitu”
“Bukan itu Kun. Wirid saya juga lengkap. Semua kalau diamalkan kita menjadi paling sempurna. Ibarat bumbu paling lengkap punyaku. Tapi kalau kamu kan Cuma satu….”
“Lha iya. Kalau kamu mau masak, semua bumbu kamu masukkan dalam masakan, jadinya rasa apa Mo…”
Darmo agak kebingungan.
“Iya..ya….Rasa apa ya? Tapi kan paling top kita…”
“Top apanya, paling –paling malah dibuang semua, karena rasanya bukan masakan lezat, malah jadi kayak jamu…mendem…siapa mau makan?”
Darmo memandangi begitu lama tiga catatan bukunya tak berkedip.
“Kalau kamu Cuma satu, itu amalan apa?”
“Akh sederhana. Satu itu kan Gusti Allah, tauhid…udah..”
Darmo memandangi wajah Kunto dalam-dalam. Ia bergegas memasukkan buku catatannya dalam tasnya. Ia tampak gelisah bukan main. Wajahnya pucat.
“Kun, kapan-kapan aku kesini lagi….”
“Pintu terbuka untukmu kawan. Syukur-syukur kamu sudah jadi dukun…”

[Read More...]


MEMANGGIL IBLIS



Abu Sa’id al-Kharraz (w. 277 H/890 M) adalah Sufi terkenal dengan sejumlah karya monumentalnya.  Ia berasal dari Baghdad dan berguru pada Dzun Nun al-Mishri dan an-Nabaji, juga berguru kepada Abu Ubaid al-Bishri dan Bishri Ibnu al-Harits.
Suatu hari, al-Kharraz bermimpi bertemu iblis. Iblis kelihatan menjauh darinya. Melihat iblis semakin menjauh lalu al-Kharraz pun memanggilnya.

“Hai Iblis! Kemarilah, apa sebenarnya maumu?,” katanya.
“Apa yang akan kulakukan padamu, sedangkan dirimu telah membuang dari dirimu sendiri, padahal yang kau buang itu bisa kugunakan untuk menipu manusia,” jawab sang Iblis.
“Apa itu?”
“Dunia!”
“Iblis kelihatan sangat segan dengan al-Kharraz, tapi pelan-pelan ia menoleh kepadanya.
“Tapi aku masih punya sesuatu berupa bisikan halus untukmu,” kata Iblis.
“Apa itu?”
“Bergaul dengan orang yang banyak bicaranya.” jawab Iblis.
[Read More...]


KATANYA KAMU MAU MINTA HARTA EMAS BERLIAN



KATANYA KAMU MAU MINTA HARTA EMAS BERLIAN

Seorang Kyai Fadlun, dari Jawa Timur, seringkali diomelin oleh isterinya (Ibu Nyai), karena begitu banyak menolong umat melalui nasehat dan doa. Dan mereka yang ditolong oleh Kyai itu sukses. Biasanya ketika sukses sudah tidak kembali lagi.

“Pak Yai, kenapa orang-orang yang ditolong pada sukses, tapi kehidupan kita cuma begini-begini saja. Apa tidak punya doa atau apalah yang bisa membuat kita jadi sukses lebih hebat lagi, lebih kaya lagi.
Kenapa mesti orang lain teruuus?” protes Ibu Nyai pada sang Kyai.

Rupanya sang Kyai hanya tersenyum belaka.
“Coba kamu ambil gentheng di rumah kita yang ada dekat wuwungan pojok...” kata Kyai itu.

“ Sebelll akh… Masak minta fasilitas lebih malah disuruh naik gentheng. Nanti apa kata tetangga. Ibu Nyai kok naik-naik wuwungan, lagi nyari apaan tuh.…Nggak lucu akh…”
“Sudahlah..Ikuti saja. Katanya kamu mau minta harta emas berlian.”

Ibu Nyai akhirnya nekad naik gentheng. Dengan bersungut-sungut agar tidak dilihat tetangga, nekad juga akhirnya. Begitu ia dapatkan gentheng itu, ia bolak balik, sembari membatin, apa sih istemewanya gentheng tanah ini?

Setelah turun membawa gentheng, ia serahkan benda itu ke suaminya, dengan muka masem.

Genteng itu dipegang oleh Pak Kyai, lalu dibungkus kain. Kemudian Kyai itu memberikan kembali ke isterinya, agar dibuka. Ternyata begitu terjeutnya sang Bu Nyai, gentheng tanah tadi berubah jadi emas semua.

Ibu Nyai kaget bukan main. Dengan muka pucat ia tak bias bicara.

“Kamu pilih mana, nikmat-nikmat Allah disegerakan di dunia, atau nanti di akhirat?”

Ibu Nyai menyadari kesalahannya, dan menangis memohon ampun kepada Allah Ta’ala. Seketika genteng emas tadi berubah jadi gentheng tanah. Sejak saat itu, ia kapok protes pada suaminya.
[Read More...]


KENAPA LAKI-LAKI TIDAK BOLEH MENGGUNAKAN PERHIASAN EMAS



KENAPA LAKI-LAKI TIDAK BOLEH MENGGUNAKAN PERHIASAN EMAS

Seorang ustadz di pesantren sedang menjelaskan tentang pandangan beberapa mazhab fiqih mengenai perhiasan emas yang dipakai oleh lelaki muslim.

“Menurut Imam Syafi’i seorang laki-laki muslim haram hukumnya memakai perhiasan emas. Namun boleh menurut Imam Maliki….”

Diskusi jadi panjang, ketika muncul pertanyaan bagaimana menurut mazhab syafi’i, lelaki yang menggunakan batu permata seperti berlian yang harganya lebih mahal dari emas, atau menggunakan batu zamrud yang nilainya ratusan juta? Apakah halal atau haram?

Sang Ustadz memberi argumen ngalor ngidul, yang dinilai cukup masuk akal.

Tiba-tiba, seorang gadis dalam arena itu penasaran bertanya?
“Kenapa sih Pak Ustadz, laki-laki tidak boleh menggunakan perhiasan emas, sedangkan kami boleh? Apakah Allah membuat perbedaan gender dalam kasus ini?”
“Ya, memang.…Tapi karena kaum lelaki sudah dipanggil Mas…Mas…Maaaaasss…untuk apa pakai emas segala?”

He he he…Nggak lucu ah!
[Read More...]


TINJA DAN EMAS



TINJA DAN EMAS

Ada seorang ahli khalwat  di daerah Madura yang luar bisaa. Konon hanya 35 hari sekali keluar. Orang aneh ini, menurut penduduk di sana, pusarnya banyak sekali mengelilingi perutnya.

Yang menjadi masalah, banyak orang menunggu kapan orang tersebut keluar dari tempat khalwatnya. Bukannya orang-orang itu mohon didoakan, tetapi menunggu kapan sosok aneh ini membuang air besar.

Kadang penduduk sekitar sana, melihat kadang-kadang tidak melihat. Kadang sosok aneh ini buang air besar kadang tidak.

Ketika buang air besar mereka berebut mengambil tinjanya. Lho?

Sebab setiap yang keluar dari perutnya itu, bukan berupa tinja kuning seperti layaknya kebanyakan orang. Tetapi yang keluar adalah warna kuning emas, dan kenyataannya adalah emas.

Rupanya orang aneh ini pandai dan arif mendidik masyarakat sekitarnya melalui tinja. Bahwa sehebat-hebat harta dunia yang dilambangkan dengan emas, ternyata nilainya tak lebih dari tinja manusia. Wuiih!

[Read More...]


INGIN MERUBAH BESI JADI EMAS



INGIN MERUBAH BESI JADI EMAS

Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzili adalah seorang Sufi agung sekaligus ahli ilmu kimia. Suatu hari beliau memohon kepada Allah swt, agar diberi petunjuk bagaimana besi bisa jadi emas.

Aklhirnya mendapatkan Ilham dari Allah, agar membakar besi itu, dan setelah itu dikencingi.

Benar, apa yang terjadi, akhirnya besi itu berubah jadi emas. Tidak jelas, kenapa harus dikencingi dan apa kandungan kencing. Apa hubungan air kecing dengan benda-benda besi dan emas?

Akhirnya Syeikh Abul Hasan bermohon kepada Allah. “Ya Allah kenapa proses ini harus melalui najis?”

Lalu dijawab oleh Allah, swt, “Sesuatu yang kotor, prosesnya lewat jalan yang kotor pula…”.

Akhirnya emas itu dikencingi lagi, dan berubah jadi besi sebagaimana semua.

Emas adalah lambang kemewahan dan harta dunia. Dan dunia itu kotor, maka dilambangkan pula dengan proses najis secara kimiawi
[Read More...]


 
Return to top of page Copyright © 2014 | White Theme Blog by Bocah 1922